Kabar Terbaru

Cement-Bamboo Frame, Teknologi Rumah Bambu yang Ingin Dikembangkan Pemerintah untuk Rumah

MYCITY.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Perindustrian mendorong pemanfaatan teknologi Cement-Bamboo Frame Technology (CBFT) untuk pembangunan rumah sederhana. Teknologi berbasis bambu ini dinilai berpeluang mendukung program pembangunan 3 juta rumah per tahun sekaligus meningkatkan penggunaan bahan baku lokal dalam industri konstruksi.

Namun, pengembangan teknologi tersebut masih menghadapi tantangan, terutama ketersediaan bambu berkualitas yang memenuhi standar industri. Pasokan bahan baku yang berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting agar teknologi ini dapat diterapkan secara lebih luas.

Untuk mengatasi persoalan itu, Kementerian Perindustrian melanjutkan program Akademi Komunitas Bambu (AKB) 2026 di Balai Diklat Industri Yogyakarta pada 18–31 Oktober 2026. Program ini berfokus pada penguatan sektor hulu, khususnya penyiapan sumber daya manusia dan kelembagaan yang mampu memasok bambu siap pakai bagi industri.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan pengembangan industri bambu membutuhkan tenaga terampil yang mampu mengelola rantai pasok, mulai dari pengolahan hingga distribusi bahan baku.

“Bambu merupakan komoditas strategis yang tumbuh melimpah di Nusantara, namun potensinya baru dapat dioptimalkan apabila didukung oleh SDM yang andal dalam mengelola rantai pasoknya. Melalui kegiatan Training of Trainers (ToT) AKB ini, kami mempersiapkan SDM yang mampu mengelola pusat logistik bambu guna memenuhi kebutuhan bahan baku bambu siap pakai yang berkualitas,” ujar Putu dalam keterangan tertulis diterima Minggu, 25 Oktober 2026.

Bagaimana Teknologi Cement-Bamboo Frame Bekerja?

Cement-Bamboo Frame Technology merupakan teknologi konstruksi yang memanfaatkan bambu dalam sistem rangka bangunan dengan penggunaan semen. Menurut materi Kementerian Perindustrian, teknologi ini berpotensi diterapkan untuk pembangunan rumah sederhana tipe 36, termasuk dalam program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Salah satu karakteristik yang disoroti adalah bobot konstruksinya yang relatif ringan sehingga perakitan dapat dilakukan tanpa alat berat. Penggunaan bahan baku lokal juga membuka peluang untuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam ekosistem konstruksi modular nasional.

Teknologi ini juga berpotensi disinergikan dengan program konstruksi modular di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

Meski demikian, penerapan CBFT dalam skala luas membutuhkan dukungan pasokan bambu yang konsisten. Bahan baku tidak cukup hanya tersedia dalam jumlah besar, tetapi juga perlu memiliki kualitas yang terstandar dan sesuai dengan kebutuhan konstruksi.

Karena itu, pengembangan teknologi bangunan berbasis bambu tidak hanya bergantung pada inovasi desain, tetapi juga kesiapan rantai pasok dari hulu hingga hilir.

Indonesia sendiri memiliki potensi bahan baku bambu yang melimpah. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam perdagangan internasional. Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Perindustrian, Indonesia berada di posisi 12 besar eksportir bambu dunia dengan pangsa pasar 0,9 persen. Ekspor masih didominasi Cina dengan pangsa 74,8 persen, disusul Vietnam sebesar 3,2 persen.

Di sisi lain, nilai pasar produk berbasis bambu global diproyeksikan meningkat dari US$ 74 miliar pada 2024 menjadi US$ 118,3 miliar pada 2034. Pertumbuhan tahunan gabungan atau compound annual growth rate (CAGR) diperkirakan mencapai 4,8 persen selama periode 2025–2034.

Produk bambu digunakan dalam beragam sektor. Furnitur menyumbang pangsa terbesar sebesar 28 persen, diikuti scaffolding 17 persen, engineered bamboo 16 persen, serta pulp dan kertas 13 persen. Pemanfaatan lainnya mencakup arang dan karbon aktif sebesar 10 persen, kerajinan tangan 6 persen, tekstil 6 persen, dan sektor lain 4 persen.

Data tersebut menunjukkan bambu memiliki pasar yang melampaui kebutuhan konstruksi. Namun, untuk meningkatkan daya saing produk nasional, Indonesia perlu memperkuat pengolahan bahan baku, standardisasi, dan kelembagaan pasokan.

Dalam konteks CBFT, bambu yang digunakan harus melalui proses penanganan agar siap dimanfaatkan sebagai material konstruksi. Kualitas dan daya tahan bahan baku menjadi bagian penting dari kesiapan industri untuk memenuhi kebutuhan proyek secara berkelanjutan.

Program Akademi Komunitas Bambu dirancang untuk menyiapkan tenaga terampil yang mampu membangun dan mengelola pusat logistik industri bambu di berbagai daerah. Pusat logistik tersebut diharapkan dapat mengumpulkan, mengolah, mengawetkan, dan mendistribusikan bambu yang terstandar, tersertifikasi, serta siap digunakan industri nasional maupun pasar ekspor.

Dalam pelatihan di Yogyakarta pada 18–31 Oktober 2026, sebanyak 25 peserta calon Master Bambu berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Sumatera Barat.

Kolaborasi Industri dan Daerah

Pengembangan ekosistem bambu juga membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan komunitas. Dalam pembukaan AKB di Yogyakarta, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menekankan pentingnya pengembangan bambu dari sektor hulu hingga hilir, termasuk melalui penerapan ekonomi hijau dan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Kamar Dagang dan Industri Daerah Istimewa Yogyakarta turut menyatakan dukungan melalui pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi hijau, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta inisiasi kawasan bambu terintegrasi.

Kolaborasi tersebut diharapkan mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan daerah dalam menyediakan bahan baku. Dengan adanya pusat logistik, bambu dari sentra produksi berpotensi dikumpulkan dan diproses sesuai standar sebelum dikirim ke industri.

Bagi pengembangan CBFT, ketersediaan pasokan yang terstandar menjadi salah satu prasyarat untuk memperluas penerapan teknologi konstruksi berbasis bambu. Namun, materi Kementerian Perindustrian belum merinci target jumlah rumah yang akan dibangun menggunakan teknologi tersebut maupun jadwal penerapannya.

Dengan demikian, penguatan pasokan bambu melalui Akademi Komunitas Bambu merupakan langkah awal untuk membangun fondasi industri. Keberhasilan pengembangan teknologi ini selanjutnya akan bergantung pada kesiapan bahan baku, kemampuan pengolahan, penerapan standar, dan kolaborasi antara produsen bambu dengan sektor konstruksi.

Posting Komentar

0 Komentar