Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan penyemaian dry ice merupakan bagian dari operasi modifikasi cuaca (OMC) yang ditujukan untuk mengurangi konsentrasi asap dan meningkatkan jarak pandang atau visibility.
Penerbangan pertama penyemaian tersebut dilakukan pada Kamis, 15 Oktober 2026. BNPB menguji metode ini untuk mengatasi asap karhutla yang mengganggu aktivitas masyarakat dan mobilitas penerbangan, terutama di sekitar Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Sumatera Selatan.
Berton menjelaskan, asap karhutla dapat terperangkap di lapisan atmosfer ketika terjadi fenomena inversi suhu. Dalam kondisi normal, suhu udara cenderung menurun seiring bertambahnya ketinggian. Namun, pada lapisan inversi, suhu justru meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu.
Kondisi tersebut membuat atmosfer relatif stabil sehingga pergerakan udara vertikal terhambat. Akibatnya, asap dan polutan sulit naik dan menyebar ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
“Penyemaian dry ice ditujukan untuk membantu melabilkan atmosfer sehingga asap yang terperangkap akibat lapisan inversi dapat bergerak naik dan menyebar. Dengan begitu, konsentrasi asap di dekat permukaan diharapkan berkurang dan jarak pandang meningkat,” demikian penjelasan BNPB mengenai mekanisme operasi tersebut.
Bagaimana Dry Ice Bekerja di Atmosfer?
Dry ice merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat yang memiliki suhu sangat rendah. Berbeda dengan es dari air yang mencair menjadi cairan, dry ice menyublim, yakni berubah langsung dari padatan menjadi gas.
Dalam operasi modifikasi atmosfer, material ini disemai dari pesawat ke lapisan udara yang menjadi sasaran. Suhu ekstremnya dapat memengaruhi kondisi termal udara di sekitar partikel semai. Perubahan tersebut diharapkan membantu mengganggu kestabilan atmosfer yang membuat asap bertahan di dekat permukaan.
Pada metode yang diuji BNPB di Sumatera Selatan, material dry ice berbentuk serbuk atau butiran berukuran sekitar tiga milimeter dengan suhu sekitar minus 75 derajat Celsius.
Mekanisme tersebut berbeda dari operasi modifikasi cuaca yang lazim dilakukan untuk merangsang hujan. Pada penyemaian hujan, material seperti natrium klorida (NaCl) digunakan untuk membantu proses pembentukan atau pertumbuhan partikel awan sehingga meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Sementara itu, penyemaian dry ice dalam operasi pengurangan asap tidak bergantung pada ketersediaan awan hujan. Sasaran utamanya adalah kondisi atmosfer yang menyebabkan asap terperangkap, bukan pembentukan hujan untuk membasahi lahan yang terbakar.
Meski demikian, keberhasilan metode ini bergantung pada kondisi atmosfer, termasuk keberadaan dan karakteristik lapisan inversi. Perubahan jarak pandang setelah penyemaian juga perlu dievaluasi untuk memastikan seberapa besar pengaruh operasi dibandingkan faktor meteorologis lainnya.
Dua Sorti Penerbangan, Jarak Pandang Meningkat
Dalam pelaksanaan awal, BNPB mengerahkan satu pesawat Cessna Caravan dengan nomor registrasi PK-SNP. Pesawat bertolak dari Bandar Udara Raden Inten II di Lampung untuk melakukan penyemaian di wilayah Sumatera Selatan.
BNPB melaksanakan dua sorti penerbangan dengan ketinggian penyemaian sekitar 4.500 kaki. Setiap sorti membawa 800 kilogram bahan semai.
Penyemaian difokuskan di sekitar ring satu Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Lokasi tersebut diprioritaskan untuk membantu mengurangi gangguan asap terhadap jarak pandang dan mendukung kelancaran mobilitas penerbangan.
Berdasarkan laporan sementara BNPB, jarak pandang di sekitar wilayah penyemaian meningkat dari sekitar 650 meter menjadi 2.800 meter.
Peningkatan tersebut menjadi indikasi awal yang akan ditelaah dalam evaluasi operasi. Namun, perubahan jarak pandang dalam suatu wilayah tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh peningkatan disebabkan oleh penyemaian dry ice. Pengukuran lanjutan diperlukan untuk mengetahui konsistensi hasil dan kondisi atmosfer yang mendukung efektivitas metode tersebut.
BNPB Uji Coba hingga 18 Oktober 2026
BNPB menjadwalkan uji coba operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice hingga 18 Oktober 2026. Setelah periode tersebut, BNPB akan mengevaluasi hasil penyemaian dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menentukan kemungkinan pengembangan metode ini.
Evaluasi diperlukan untuk menilai efektivitas penyemaian, kondisi atmosfer yang paling sesuai, serta potensi penerapannya di wilayah lain yang terdampak karhutla.
Jika hasil pengujian menunjukkan manfaat yang konsisten, metode ini dapat menjadi salah satu opsi penanganan asap ketika kondisi atmosfer menghambat penyebaran polutan. Namun, penyemaian dry ice tidak memadamkan sumber api secara langsung dan tidak menggantikan upaya pemadaman karhutla di lapangan.
Pengendalian sumber kebakaran tetap menjadi langkah utama untuk mengurangi produksi asap. Modifikasi atmosfer melalui dry ice ditujukan untuk membantu mengatasi kondisi yang membuat asap terkonsentrasi di suatu wilayah, sehingga manfaatnya perlu dinilai bersama upaya pemadaman dan pemantauan kualitas udara.
Hasil uji coba di Sumatera Selatan akan menjadi bahan evaluasi BNPB untuk menentukan apakah teknologi tersebut layak dikembangkan sebagai bagian dari penanganan dampak karhutla di wilayah lain.

0 Komentar